Jumat, 12 November 2010

kenali aku

Jangan berhenti mencoba mengenal aku berikut hatiku

sungguh aku berharap kau begitu



Aku memang tak pandai bergegas untuk hal ini

Tak pandai merangkai kata untuk memperkenalkan hati



Aku hanya pejuang yang terlalu lama bersembunyi

hingga lupa caraku untuk angkat senjata lagi

Tapi bukan berarti aku tak ingin pergi dari situasi ini

aku hanya tak tahu mata angin untuk itu

aku tak yakin ini arah ku



Sementara aku yakin, kau selalu ingin segera tahu

tentang banyak hal yang ada dihadapan mu

termasuk hati ku




Aku berharap kau menaruh curiga terhadap ku




tak peduli nanti

kau tak sambut perasaan ini

tak risaukan nanti




karena aku terlanjur percaya

takkan sampai hati kau kan menyakiti

Kamis, 11 November 2010

Tak ingin seperti dengan mu

Bukan sekali ini aku jatuh hati
namun tidak seperti denganmu
aku tak ingin salah strategi
tak ingin termakan bualan nafsu
yang menyamar dalam suara hati
tak ingin terjebak dalam kecewa
yang merumput dalam lapang dada
....
Hakh
sudahi saja omong kosong ini
sedari kini akan ku akui kekonyolan ini
tidak seperti dengan mu
dengannya
akan ku telanjangi kurusnya keberanian
dan rapuhnya iman
agar ia tahu betapa apa adanya aku
....
Inilah aku
yang punya cukup mimpi untuk mengagumi
namun tak punya cukup tenaga
untuk menempeleng keraguannya akan diriku
atau kebimbangannya menyederhanakan perhatianku
...
Bijaksana
kuasai hati dan pikiranku
agar tak mudah patah hati
agar bila kelak ia sepertimu
aku tak jera terus-terusan
tak cengeng kelamaan
atau bila kelak ia kerasan menungguku
berilah kalimat yang tersantun
hingga ia nyenyak dalam penantian
...
Tak ingin seperti denganmu
namun tak kurang satu bintangpun
kugantungkan harap demi harap
seperti aku mengharapkanmu dulu
kini dengannya

dedicated for Hanifah Syahidah

Rabu, 13 Oktober 2010

pesan dari dua orang untuk saya

dua orang
yang keduanya
sangat saya hormati

mereka berasal dari kasta yang berbeda
yang satu adalah seorang muda
yang belum mau taat pada Tuhannya
sementara satu lagi
seorang tua
yang hampir menutup usianya
dengan lambaian surga
namun keduanya punya bijaksana

belum lama ini saya bertemu keduanya
mereka mengatakan hal yang sama
menasehati saya
dengan nasehat yang sama
padahal mereka tidak saling kenal

malam itu
sebelum keesokan harinya saya mengunjungi rumahmu
saya bertemu si pemuda
ia bersikeras ingin bertemu
saya pikir hendak pinjam uang
karena nada bicaranya
seperti orang kehabisan uang

tapi ternyata tidak
ia malah bicara tak henti-henti
menyuapi saya dengan pesan-pesan penguat hati
pembakar semangat
pengeras jargon
lalu kami bicara tentang mimpi-mimpi
bahkan sampai sarana prostitusi
seolah malam itu tidak akan berakhir
namun pada larutnya kami pun harus berpulang
saya tidak bisa lupa sepanjang jalan
pesan-pesannya itu

keesokan paginya sebelum saya berkunjung kerumahmu
saya pergi ke rumah si tua baya
hampir saja saya tidak menemukan rumahnya
karena jalan kecil di depan rumahnya itu
sudah berubah melebar
saya hampir kesasar

masih saya ingat ketika kecil dulu
di belakang rumahnya ada sebuah kali agak besar
ukuran bagi saya waktu itu
tapi kini seperti tampak sangat kecil
entah memang mendangkal
atau memang tubuh & kemaluan saya yang sudah besar
saya tidak peduli

setelah sedikit berbasa-basi
ia pun menyampaikan pesan yang sama
seperti yang saya terima malam sebelumnya
hati jadi makin kuat
semangat jadi makin terbakar
jargon seperti membahana

namun saya pun harus pamit
setelah saling bertitip salam
saya pergi
sepanjang jalan
saya semakin tidak bisa lupa pesan-pesan itu

selepas dari sana saya baru kerumahmu
maksudnya ingin sedikit berbagi tentang cerita ini
sambil melepas rasa rindu yang menggebu-gebu
ingin menjadikan pesan-pesan dari mereka untuk membenarkan keputusan kita
yang sudah kita ambil
ingin tidak ada sesal

bahwa saya memang harus menghidupi keluarga
bahwa laki-laki punya langkah yang lebih panjang dari wanita
bahwa pendidikan adalah mutlak bagi kehidupan
bahwa kelak saya akan mati
sesudah melunasi janji-janji saya

bahwa pernikahan bukan sekedar
menyatukan dua hati
namun dua keluarga besar
dan belum saatnya bagi saya

bahwa saya belum apa-apa
belum juga bisa mempersunting siapa-siapa

butuh lebih banyak puasa
butuh lebih banyak tenaga
butuh lebih banyak waktu
butuh berjuta-juta rindu

demam

Belum lama
aku tiba disini
Sudah habis
kuciumi hangatmu
Hujan sebentar saja
sudah bikin tubuh ini jera
Tak elak lagi
berkawan dengan demam
Sayangnya ini tak seterusnya
Ketika kembali
sang sedia kala
Aku pun harus
melepasmu
Karena
tak mungkin mengenakanmu
disaat terik
Aku
hanya bisa berharap
ini
bukan hujan terakhir
yang membasahiku

Namun bukan berarti
aku hanya mencarimu
disaat hujan
Justru terik ini jadi penyulut
rinduku
Bila mungkin aku
mengidap demam
sampai tua
Tak mengapa
asal hangatmu
yang
memelukku

apa pun akan ku lakukan

Bukan maksud ku
menganggap mu
seperti vetsin
di tenggorokan
Bikin radang panas dalam

Tak ingin menganggapmu
seperti angin saat ku kerasukan
Dibodohi uang logaman
atau merasa pintar
hanya karena
minum ramuan

Tak ingin juga mengibaratkan mu
seperti
ingus saat flu menyerang
Menyumbat jalan udaraku.
bikin pusing

Tapi apapun
akan ku lakukan
untuk mengalihkan
pikiran ku
dari mu
karena harus ku lakukan
tak baik jika terus begini
menambah runyam konsentrasi

Selama Tuhan tidak marah
apapun akan ku lakukan

ku belikan ini untuk mu

Kamu tahu?
Ku belikan ini untuk mu
agar bila nanti aku hilang kendali
di jalanan
kepala mu tak babak belur
dihantam aspal
atau bila hujan, kerudung mu beserta isinya
luput dari kebasahan

sengaja ku pilih warna ini
agar kau tak banyak minta
maklum saja mungkin selera kita berbeda
aku hanya ingin kau terlindungi
dan kita tidak terpaksa berhenti
hanya untuk berbagi rezeki dengan Pak Polisi

tapi belum sempat ku berikan pada mu
kau sudah pergi
sedih sekali waktu itu
....
Walaupun akhirnya aku tahu mengapa kau harus begini

Walau begitu
tak sedikitpun kubiarkan kutu-kutu bersarang disini
tak ada usang apalagi debu
jangankan tergores, buram pun tidak
begitu sangat ku simpannya di bawah meja
ku bungkus rapat
seperti hati yang ku jaga
....

Lalu barusan tadi
aku baru saja sadar
mengapa tidak ku berikan ini kepada yang membutuhkan?
Mungkin ada manfaat
ketimbang jadi teman bisu ku
di bawah sini
mendengarkan sajak-sajak ku untukmu
tanpa memberi tanggapan
apalagi pujian
dan ku yakin kau pun setuju
....

Mungkin saja nanti
bila kau kembali
kita tak butuh pelindung kepala ini
karena Tuhan sudah memberi kita Avanza
mungkin juga Xenia

menuruti kata akal dan membenarkan hati

Lagi-lagi akal dan hati terlibat adu mulut
sulit mendamaikan mereka berdua

akal bilang, saya harus mengakui semua kebodohan ini
kepada setiap orang yang saya cintai
dengan begitu mungkin saja saya benar-benar bisa diampuni

tapi hati tidak demikian
terlalu mengagung-agungkan gengsi
atau memang karena terlampau malu
sulit saja baginya mengaminkan pendapat akal

hati terlalu yakin dengan kekuatannya
yakin kalau saya akan jadi orang baik
hingga tak perlu ada pengakuan
perbaiki diri saja
biar saja koreng ini mengelupas dengan sendirinya

entah mengapa kali ini saya sependapat dengan akal
kedengarannya lebih tahu diri
ketimbang harus membenarkan hati

namun nyatanya memang
butuh kuda-kuda yang kuat
dan pemikiran yang mumpuni
untuk menuruti kata akal dan membenarkan kata hati

Drama dan diorama

Kau memang tidak banyak bicara
diam mu memaksa ku untuk membaca satu demi satu semua tentang mu
mulai dari biografi
sampai kodifikasi revolusi
namun gaya mu yang seperti ini
justru membuat ku mengerti
kau telah sukses menjadikan aku menggemari mu
kau lah diorama favorit ku

sementara aku di mata mu
mungkin tak ubahnya lakon yang tak bisa diam
tak henti-hentinya kesana kemari
menghadirkan cerita di ruang khayal mu
pada inti nya tidak berbeda dengan arah yang kau tuju
kita saling memperkenalkan diri
dengan gaya sendiri-sendiri

mungkin apa yang ku hadirkan seperti pura-pura
tapi tidak disini
tidak ada sutradara dalam drama ini
hanya aku yang berperan sebagai aku

cukur rambut

Tadi sore hujan reda sebentar
saya bergegas keluar rumah
hendak berkunjung ke tukang cukur
tidak salah lagi
karena saya harus bercukur

tidak begitu jauh
beberapa menit saja saya sudah sampai
entah memang jarak yang dekat
atau langkah saya yang begitu cepat
tapi rupanya disana
masih harus mengantri
saya pun mengantri

sambil duduk
saya terus menggerutu dalam hati
bukan karena giliran yang belum juga datang
tapi kehendak ini yang setengah hati

rambut saya belum begitu panjang
bahkan belum seperti selebritis korea di tivi tadi
tapi norma kepantasan sebagai pegawai negeri
menuntut saya terlalu tinggi
untuk dianggap rapih

mungkin kalau kondisi kepala ini baik-baik saja
tepatnya terlihat baik-baik saja
saya tidak akan setengah hati
bahkan sedari dulu saya sudah terbiasa digunduli
tapi sekarang kondisinya sudah berbeda
bukan karena saya ingin meniru gaya rambut seperti selebritis korea di tivi tadi
tapi karena bekas luka di kepala ini mendesak saya untuk ditutupi

berkali-kali saya harus mengingatkan si tukang cukur
setiap kali mencukur
agar tidak terlampau asyik mencukur
saya tahu dia kesulitan
dia selalu berhati-hati

saya pun tidak pernah protes
bila hasil nya tidak memuaskan
saya tahu ini tidak mudah
saya sangat menghargai

kali ini
saya tidak minta macam-macam
biar saja si tukang cukur bekerja sesuka hati
walaupun sebenarnya saya setengah hati
tidak peduli bekas luka ini terlihat jelas
saya ikhlas
kebetulan memang suasana hati sedang tidak menentu
ingin rasanya menghukum diri
dan ini salah satu cara

saya lantas berkhayal
kalau saja saya punya alasan yang kuat
sebagai pembenaran diri
bahwa pegawai negeri boleh gondrong
lebih dari sekedar menunjukan bekas luka
untuk memohon pengecualian
tentu saya berani
yang penting saya tidak korupsi

sayangnya saya tak punya alasan lagi

saya katakan ini ketika tubuh mulai bosan

saya katakan ini ketika tubuh mulai bosan
dipecut oleh kewajiban-kewajiban
tanggung jawab yang sedemikian rupa saya tanamkan
dalam diri saya sendiri

baru begini saja sudah lelah
payah
bagaimana nanti jika saya jadi orang besar

mengapa tiba-tiba terpikir seperti itu
padahal cita-cita saya cuma ingin jadi seniman
bukan negarawan

ketertarikan saya pada sajak-sajak
lagu ke lagu
lukisan demi lukisan
lebih besar ketimbang mengurusi
birokrasi

bahkan jika boleh
saya ingin duduk bersila saja
menjual guratan tangan
atau suara
sambil mengagumi kebesaran Tuhan

sayang
kalu cuma satu perut saja yang meringis lapar
saya tidak peduli
kenyataannya tidak seperti itu
pasrah sajalah

begini sudah yang terbaik
walau tubuh terus-terusan bosan
saya harus melawan
yang penting bisa terus berkarya
tidak miskin inspirasi
tidak fakir daya seni

dan kata-kata semangatmu itu menguatkan saya

Rekreasi

Tidak ada yang istimewa disini
tidak ada euforia

bagi saya sama saja menghabiskan waktu

sekali pun hanya sebuah penghamburan
saya patut bersyukur
karena khamr tidak akan dianggap memabukkan jika belum ada yang mencobanya
paling tidak saya tahu
sebagian besar dari kami menyalahgunakan kesempatan ini


tinggal bagaimana selanjutnya
mudah-mudahan saya bukan tergolong
manusia yang senantiasa merasa kurang
hingga harus mencari-cari tambahan

mudah-mudahan saya bukan tergolong juga manusia yang lekas jenuh
hingga harus berekreasi sana-sini

mudah-mudahan saya tergolong manusia yang mencapai taraf rekreasi dalam bekerja

mohon ampun dan bersyukur sepanjang waktu

Habis-habisan

Aku sudah cukup mengantuk saat ini
namun aroma tubuh ini
membujuk ku untuk pergi mandi
padahal tidak ada bedanya
bila ku abaikan
toh hasilnya sama saja
kau tak sudi perhatikan

tega benar dambaan ku ini
menolehlah sedikit
paling tidak agar kau tak jenuh memandangi ketampanan dunia
yang tak ada habisnya

anggap saja aku polisi ketiduran
di sepanjang jalan mu
tak perlu terlalu diperhatikan
namun tidak begitu saja kau abaikan

sedikit memaki ku
pun tak apa lah
setidaknya kau berjalan lebih lambat
ketika melintas di pikiran ku
pandangan ku
sehingga aku bisa menikmati keanggunan mu yang sebenarnya biasa-biasa saja
namun membuat ku tergoda habis-habisan

Jumat, 17 September 2010

zaman beton

dulu
kalau saya
mau kencing
dimana pun bisa

masih banyak pohon
masih lebar tanah
masih merumput

tapi
sekarang
dimana-mana beton
susah jadinya


bau nya jadi tidak hilang
tidak tahu kemana mau mengalir
mau meresap
disana-sini beton

itu kata bapak-bapak supir

kata mereka
apa ibu kota ini tidak berat?
tiap hari di tindih beton
di pancang paku bumi

dulu
kalau mau
main perempuan
masih banyak kebun
masih rimbun semak
tak perlu sewa kamar

sekarang semua jadi apartemen
kalau dulu tanahnya subur
karena getah kami
sekarang malah amblas
bumi seperti menciut
seperti sudah ejakulasi

dulu
kalau panas terik
masih banyak teduh
di bawah beringin
atau yang lain

sekarang sudah ditebang
diratakan dengan tanah
tumbuh lagi jadi mall
tempat kebanyakan penumpang kami
buang hajat
mengumbar nafsu

dulu
kau sudah kebelet
tinggal jongkok
di kali
airnya mengalir
deras
kami pun ikhlas
ditinggal pergi kotoran

sekarang
mengalir saja susah
airnya pun hitam
kotoran siapa yang hitam-hitam begitu?
pasti makannya uang haram

dulu juga
mau cuci tangan
bekas oli
dimana saja

sekarang
sumurnya kering
kalah perang sama jetpump
air dari bapak gubernur juga belum datang-datang
pipanya belum panjang
masih jarang

kami jadi bingung
bagaimana karir kami di daratan?
lebih baik hidup di zaman batu
daripada zaman beton
paling tidak kami tidak takut
ibu kota
tenggelam

atau kami jadi nahkoda saja?

Sabtu, 11 September 2010

Sepucuk rindu yang hampir lusuh

Ditanganku ada sepucuk rindu yang hampir lusuh. 

Ungkapan isi hatiku yang kumuh. 

Bingung mau ku alamatkan. 

Karena yang dituju tak tahu gerangan. 

Ahh.. Baiknya kulipat kembali. 

Biar tidak jadi ruwet tak keruan. 

Masih banyak yang harus ku dahulukan

Meledak-ledak

Akhir-akhir ini, udara jadi kurang bersahabat. 

Terlalu dingin untuk hati yang sempat kau hangatkan. 

Sendi-sendi jd mulai cari prhtian! 

Layaknya perawan kehilangan keperawanannya, 

meminta tanggung jawab! Isi perut jadi sering meledak-ledak. 

Tak ubahnya elpiji pemusnah massal, 

konversi brujung kontroversi

Hibernasi

Bukan masalah besar
jika memang
harus menunggu mu
selesai berhibernasi
sampai matahari terbenam
untuk terakhir kali nanti

Buang saja rasa tidak nyaman
biar hilang
digilas zaman

Simpan kata maaf mu
sampai saat kau kembali
hari yang sama-sama kita nantikan
Toh, kita sudah saling memaafkan bukan?

Kecuali jika memang
kau tidak ingin ditunggu-tunggu
aku tak perlu berjanji setia
kepada mu
dan
kepada langit
dan tiang-tiang penyangganya
agar tidak runtuh dulu sebelum kau kembali

Bukan masalah besar
juga
jika demikian
Toh kita sudah sama-sama dewasa
sama-sama mengerti
tak perlu ku uraikan panjang lebar lagi

Percaya saja
Sang Maha tidak pernah ribet
dengan semua keluhan kita
permintaan kita

El....
pergilah sejauh mataku
tak bisa memandang mu
sesuka hati mu
tapi jangan bersembunyi

temukan waktu
dan tempat
yang bisa memanjakan mu
yang bisa mengakrabkankan mu
dengan Sang Maha
teman dan Tuhan mu

Sabtu, 04 September 2010

Waktu rindu datang tiba-tiba

Sudah malam begini,
dasar tidak tahu waktu.

Tapi tak mungkin juga kubiarkan kau terlantar di emperan,
mengebul
ditepuk berdebu,
menggigil
ditusuk-tusuk beku.

Akhirnya ku persilahkan kau masuk,
mempersilahkan kau mengatur dirimu sendiri.

Tapi kau justru keterlaluan,
lancang sekali mengatur-atur kedaulatan hatiku,
malamku.

Aku suguhkan kau jahe wangi
agar terasa hangat-hangat api,
kau malah minta yang haram.

Mabuklah aku
kau sertakan.

Dan saat aku hampir terlelap,
kau perkosa ketangguhanku dengan air mata.

Karena bayangan tentang dirinya
sengaja kau putar berulang-ulang.

Oh malang,
ternyata kau tahu nasibku,
harapanku yang baru saja hilang.

Aku pikir kau hanya kurir kenangan
tidak lebih dari pembawa pesan kerinduan.

Tapi kau ternyata bedebah,
kau buatku jadi lemah.
Aku jadi memaki-maki.

Mengapa kau datang di saat seperti ini,
di saat dia tak mungkin membalas pesanku.

Rindu,
tidakkah kau kasihan padaku.

Ambil saja apa yang kau mau.
Waktuku, mimpiku, cangkir-cangkir kebanggaanku.
Tapi jangan tinggalkan bekas bibirmu di dalam kepalaku,
kau membuatku jadi idiot.
Tak mampu berpikir cerdas.

Air liurmu membuatku harus berwudhu dengan air dan batu dari gunung seribu.

Oh Rindu,
bicarakanlah baik2 dengan Sang Maha.
Jangan sampai aku jadi durhaka
gara-gara kau.

Jangan sampai Ia murka.
Paling tidak jangan kau lebih-lebihkan kecintaan ini.
Perasaan cintaku padanya.

Paling tidak mampirlah disaat jiwaku sedang jaya,
sedang anti putus asa.

Paling tidak sampaikan apa adanya,
agar terlihat hemat saja,
namun luar biasa makna.

Paling tidak sambangi hatinya juga, barang sebentar, setelah kau dari sini.

Aku harap dia mempersilahkan kau masuk juga.

Tapi jangan kau racuni bejana air minumnya, hingga ia tak ingat bicara dengan Sang Maha.

Cukup sampaikan pesan ku padanya.
Itu saja.

Kamis, 02 September 2010

Separated

If love was a bird, then we wouldn't have wings


If love was a sky, we'd be blue

If love was a choir, you and I could never sing

'Cuz love isn't for me and you



If love was an Oscar, you and I could never win

'Cuz we could never act out our parts

If love is the Bible, then we are lost in sin

'Cuz it's not in our hearts



So why don't you go your way and I'll go mine

Live your life and I'll live mine

Baby, you'll do well and I'll be fine

'Cuz we're better off, separated



If love was a fire, then we have lost the spark

Love never felt so cold

If love was the light, then we're lost in the dark

Left with no one to hold



If love was a sport, we're not on the same team

You and I are destined to lose

If love was an ocean, then we are just a stream

'Cuz love isn't for me and you



Why don't you go your way

(Go your way)

And I'll go mine

Live your life

(Live your life)

And I'll live mine

Baby, you'll do well

(You'll do well)

And I'll be fine

'Cuz we're better off, separated



Girl, I know we had some good times

It's sad but now, gotta say goodbye

Girl you know I love you, I can't deny

Can't say we didn't try to make it work for you and I



Know it hurts, so much but it's best for us

Somewhere along this winding road we lost the trust

So I'll walk away, so you don't have to see me cry

It's killing me, so, why don't you go



Why don't you go your way and I'll go mine

(Baby)

Live your life and I'll live mine

(I'll live mine)

Baby, you'll do well and I'll be fine

'Cuz we're better off, so much better off



Go your way

(Go your way)

And I'll go mine

(I'll go mine)

Live your life

(Your life)

I'll live mine



You'll do well and I'll be fine

'Cuz we're better off, so much better off

So much better off

Separated



I'm sorry we didn't make it

Minggu, 29 Agustus 2010

menunggu mu

aku masih
menunggu mu
bicara

padahal malam
hampir usai
tak peduli

padahal tubuh
berkali kali bangkit rubuh
tak mengapa

khawatir
rindu
aku

begitulah kau

aku sengaja keluar malam ini
sejenak bertemu kawan yang sebatang kara di kota ini
sebagai teman baik tentunya tidak tega melihat dia
yang sedang menderita
walaupun sebenarnya tidak terlalu sangat
tapi paling tidak
mencari pengalihan di tengah kecemasan
yang kau buat

kami bercerita banyak
tentang mu
tentang kebiasaan mu yang mulai terbiasa
ku hadapi
tapi apakah ini tidak terlalu cepat?
sementara siang tadi kita masih biasa-biasa saja
aku sibuk bertanya-tanya
apakah aku sudah terlalu berlebih?
sehingga kau pusing
dan sulit bicara

kau tahu?!
aku baru saja mau bicara
tentang habis bulan nanti
akan ku buktikan kesungguhan ku
aku tak kan segan-segan menemui bapak mu
ibu mu
mempertanyakan kesungguhan mu pada ku
bagaimana kau akan menerima ku?
apa adanya

bila iya
lengkap sudah
aku tak ambil pusing lagi
tapi belum saja aku begitu
kau sudah begini
khawatir ku tiada henti
tekanan darah naik turun
kau membuat ku mati gaya

kawan ku itu hanya tersenyum saja
begitu lah kau
menikmati cara mu adalah pilihan terbaik saat ini
ikuti saja
begitu ujarnya

belum sampai aku benar-benar mengantuk
aku pamit
berdoa dalam hati untuk kesembuhannya
beserta segelas jus jeruk
dan canda tawa

bila sampai esok sore kau tak kunjung bersuara
mudah-mudahan cuaca tak begitu buruk
dan aku tak lupa jalan pulang kerumah mu
kita bertemu disana
dengan izin-Nya

menggerutu

Kimi ga suki.....

Kalimat itu masih hangat
di telinga ku
belum habis bunga-bunga
ini mekar
di dalam hati
tiba-tiba
sudah layu
seperti datang kemarau
terlalu dini
hawa nya panas
mengeringkan
jiwa yang sempat kau
basahi

aku seperti jejaka
yang tak sudi kehilangan
padahal
ini bukan pertama kali
sudah kesekian
kali
aku cemas
sejadi-jadinya
sedih tak keruan
tapi bukan menangis
menggerutu
sepanjang jalan

sepertinya
Tuhan sedang menggoda
ketangguhan ku
dalam bercinta
Ia menjawab semua
doaku
hahh
aku tak boleh menggerutu
nikmati
sajalah
bersyukur saja karena
Dia telah menganugerahkan aku
hati yang mudah mencintai

telah menghadirkan dia
dalam perjalanan ini

Kimi ga suki

mampir lah sekali-sekali
sekali lagi
agar kita tak lupa
benar

Jumat, 20 Agustus 2010

Cinta Ini Mendewasakan Kita

..........
Kami sedang berbincang sore itu. Di luar langit terlalu gelap untuk kami beranjak pulang. Lagi pula sebentar lagi malam. Ada baiknya kami menunggu malam benar-benar sampai. Toh, nantinya sama saja, kami tiba di pembaringan malam-malam juga!

Seingatku tidak banyak yang kami perbincangkan. Sedikit basa-basi di awal, lalu dia mulai menghadirkan nama mu di layar perbincangan. Mempertanyakan sikapmu yang semakin hari semakin sulit untuk diterka. Aku tidak punya alasan untuk diam saat itu. Lagi pula tidak ada secangkir kopi untuk mengalihkan pembicaraan ini menjadi sebuah lelucon. Aku yakin kau pun tidak akan suka diperlakukan seperti itu.

Aku mencoba berpikir keras, mencermati setiap detail kata-katamu dalam jangkauan ini. Berusaha menirukan gaya mu, memahami maksud mu......

Apakah diantara kita memang sedang membahana seruan cinta itu. Seolah kita berada dalam ruang resonansi besar, seruan itu menerbangkan kita kemana-mana. Apakah ini memang bagian dari cara alam mendewasakan kita. Sehingga kita harus menyadari bahwa tidak ada satu keindahan pun di bumi ini melainkan atas kehendak-Nya, dapat kita miliki, dapat kita rasakan. Sehingga kita harus belajar untuk saling menghargai, bukan semata-mata dan terus-menerus mencari penghargaan itu. Sehingga pada akhirnya kita semua merasakan bahagia, seperti yang kau bilang pada nya.

Aku bisa memahami, bagaimana perasaan dia saat ini. Kalimat mu itu serasa bagai aspirin di kepala nya. Seandainya dia tidak bertanya padaku, meminta pendapatku. Aku tahu dia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sudah terjadi? Kau bicara lebih dewasa daripada sebelumnya, lebih menyentuh.

Aku justru tidak tahu bagaimana cara nya menempatkan hati ku di antara kalian. Sedapat mungkin aku berhati-hati. Tidak ingin di antara kita ada yang tersakiti. Memang terlanjur untuk menarik hatiku dari pandangan mu. Namun tidak akan ku pentingkan keinginan ku sendiri. Selama ini, bukan aku berusaha untuk menyingkirkan dia dari perhelatan ini. Bahkan sedikit demi sedikit membuang jauh-jauh perannya pun tidak. Aku tahu bagaimana kau di hati nya. Aku pun tidak ingin tergesa-gesa kepadamu.

Dahulu kita seperti di belantara tidak tahu, bimbang kemana-mana. Kita sama-sama berangkat dari kebodohan, mencari ujung kaki-kaki matahari. Disitu terang, disitu menanti perhentian terakhir kita. Tapi kita buta arah, kata hati tak bisa lagi menuntun langkah kita. ...kita hampir putus asa. Kita berharap bisa bertemu sungai, dan terhanyut di hilir sana. Kita berharap bisa bertemu angin, dan terhempas sampai ke pesisir. Sempat terpikir, mungkin memang lebih baik kita mencari perhentian baru. Mungkin sesekali bisa kita hiraukan apa kata hati. Dan kita mencari akal lagi. Namun bukan lantas begitu saja kata-kata hati itu kita biarkan membusuk di bawah dedaunan kering. Kita tak boleh semena-mena begitu....Kini kedewasaan itu datang, perlahan-perlahan menuntun kita ke leluasaan hidup ini.

Kami hampir mengakhiri perbincangan itu, sebelum akhirnya dia meminta sedikit pertimbangan tentang kat-kata mu itu. Aku hening sejenak, seperti mencoba mengkodifikasikan berjuta pendapat dalam tumpukan surat pembaca. Hingga akhirnya ku berikan referensi yang tepat, kurasa.

Sepertinya memang kita tidak bisa menghindari kedewasaan itu datang, air mata dan bahagia sudah membawa kita terlalu jauh untuk menoleh ke belakang... namun percayalah ada saat-saat keremajaan itu kembali untuk sekedar menanyakan kabar.

...................
Entah siapa yang pamit terlebih dahulu. Kami tidak terlalu ingat. Perbincangan itu berakhir begitu saja. Sepanjang malam itu aku terus menerka-nerka, aku yakin Dia sedang menjalankan rencana terbaik-Nya. Dan semoga cinta ini bisa mendewasakan ku, kau dan dia

Lelaki Pencemburu

Lipatan kerah ini terasa sesak di leher saya
Benar-benar tidak nyaman
Sudah sejak tadi saya coba untuk leluasa, melonggarkan ikatan dasi, tapi tak cukup berarti
Ada yang mengganjal di dalam sini
Dan tidak bisa saya keluarkan
Ungkapan yang seringkali saya dengar, namun sulit saya akui
Terlalu tinggi kah ego ini?
Atau memang kali ini berbeda
Kali ini bukan cemburu....
Atau apa?


Kamu benar-benar sudah menguji kelihaian hati saya dalam bersembunyi
Diam tak buat mu menyerah begitu saja
Justru bingar mu semakin menjadi-jadi
Saya jadi benar-benar tidak mengerti
Apakah ada yang lebih abadi daripada kesetiaan?
Kurasa tidak, dan kamu tahu akan hal itu
Atau kamu memang sudah melarikan diri begitu saja dari perjamuan ini
Rendah sekali....
Seperti tidak punya tata krama

Ahhh...
Tapi sejarah kita dimulai dengan perjuangan yang sakral
Terlalu cepat bila benar kau mengundurkan diri

Lantas apa yang saya rasakan kini
Rindu, namun enggan bicara
Benci, namun tak sudi kehilangan

Mungkin ada yang salah di awal kita menyepakati perjanjian ini
Perlu adendum, atau mungkin amandemen
Agar tidak semena-mena kamu mainkan perasaan ini
Agar kita sama-sama mengerti



Tapi sepertinya memang tidak ada itikad baik dari mu untuk memperbaiki
Atau lagi-lagi kecurigaan saya yang berlebihan?
Karena kamu sedang berusaha menjadikan saya seorang lelaki pencemburu??
Bila iya.....nampaknya kamu sedang menertawakan saya disana


..............
Baiklah kalau begitu
Sudah saya putuskan
Tak peduli kamu sedang mempermainkan saya
Atau memang ada usaha-usaha untuk menghilangkan posisi saya dari dalam hati mu
Saya tidak akan tinggal diam
Lagi
Saya akan buktikan bahwa tidak ada yang setengah-setengah dalam kesaksian ini
Terserah bila nanti kamu menyebut saya lelaki pencemburu
Mungkin memang sebenarnya begitu

Rabu, 18 Agustus 2010

Untuk laki-laki terbaik ku

Untuk laki-laki terbaik ku....












Mungkin nanti saat kau baca pesan ku ini, saat itu pasti kau sudah besar. Sudah saatnya untuk kau ketahui, betapa pelik hidup kita ini, dan mengapa aku harus pergi.







Maaf.... bila harus seperti ini. Aku meninggalkanmu saat itu dalam ketidak berdayaan. Saat-saat dimana seharusnya kita menghabiskan waktu bersama. Menyeberangi luasnya samudera, menaklukan puncak-puncak dunia dan menelan berjuta barrel bahagia.







Aku tak ingin melihatmu menangis saat itu, tak sampai hati aku pergi. Tapi aku memang harus pergi, mau tidak mau. Namun lihat kini..... sudah ku duga kau jadi berbeda, kau bukan lagi air mata kesedihan. kau semakin membuat ku bangga.







Bukan berarti dengan begitu, aku tidak tahu apa yang sudah kau perbuat selama aku pergi. Berkali-kali kau jatuh, saat itu juga aku merasakan sakit. Berkali-kali kau mendulang keangkuhan, saat itu juga aku menggeram dalam hati. Berkali-kali kau merasakan cinta, saat itu aku hanya tersenyum saja..... hmmmm







Kurasa tak perlu banyak mengirimi mu pesan. Aku yakin kau seorang otodidak ulung. Bersahabatlah dengan kegagalan, Bersainglah untuk keberhasilan. Semakin sering kau gagal, semakin besar keinginan mu untuk menang. Dimana pun pasti kan kau temui, banyak hal yang bisa kau pelajari. Bahkan diamnya batu pun serasa bagai guru.







Aku harap kesalahan-kesalahan yang pernah kau perbuat, tak terulang lagi nanti. Karena setelah ini aku tak bisa mengawasi mu lagi. Berjanjilah........ Kau akan hidup dengan luhurnya budi pekerti. Berjanjilah padaku dan berdoalah untukku.







Aku kini benar-benar pergi. Dan diantara kita tinggal hanya ikatan tak kasat mata. Dimana Tuhan memelihara kau dan aku. Dia tahu, kau manusia yang tak mudah mati hanya karena semua beban ini. Berbesar hatilah mendapat tugas semulia ini. Ini sebuah kehormatan....







Nak.... Sejak saat kau lahir ke dunia ini, hingga kini, bahagia ku tak pernah terganti.















Tertanda



Ayah

Asalkan kau tetap berjuang

Pagi itu jalanan ku sedikit lembab, berair. Maklum saja musim penghujan tiba lebih cepat dari perkiraan surat kabar ibu kota. Tapi langkah ku tak kurang cepat dari kemarin, satu hari sebelum hari besar ini.




Sekotak besar perlengkapan juang ku sudah bergantung di antara bahu ku. Satu-persatu ku telusuri isinya. Lengkap sudah, tak kurang suatu apa. Aku tak ingin ada yang tertinggal, begitu juga semangat juang itu. Jangan sampai tertinggal di atas usang alas tidur ku. Bagi ku ini adalah perjuangan, bukan sekedar bertahan hidup, tapi mempersiapkan kematian, dimana hidup itu dipertanggungjawabkan. Aku pun berangkat dengan sedikit tergesa-gesa.



Masih kuingat rintihan ibu semalam. Tubercolosa nya semakin akut, sudah berdarah-darah. Aku benci pada kekejaman birokrasi itu, palsu, tapi percuma saja. Marah ku tak kan mengubah tatapan mata para penghisap darah kami, yang tertindas. Semua terkesan pilih-pilih, kesehatan itu bagai perhiasan yang tak mampu kami beli.



Aku hampir tak pejamkan mata semalaman itu. Hampir tidak tak berurai air mata. Menutup sebentar saja pun hanya menghela nafas saja. Lelah, tapi aku tak boleh rasakan itu. Yang kucari hari ini bukan sekedar senyum kebahagiaan, tepuk kebanggaan atau lega hari esok, tapi segalanya. Aku tak ingin segala itu hilang hari ini. Belum. Aku harus kembali sesegera mungkin. Dan memastikan Ibu masih bersama ku, sepahitnya hingga esok pagi. Dan aku tak ingin terlambat.



Sampai. Dari satu sepatu ke sepatu yang lain, dengan pertanyaan yang sama. Beruntung ada beberapa yang bisa ku berikan jasa. Aku tak biarkan waktu itu mendahului. Sang Maha Kaya benar-benar baik hati. Itu lah mengapa, tak bosannya aku meminta-minta. Sepatu-sepatu itu pun seolah mengerti, mereka tak banyak bicara, pasrah saja, mereka tahu aku tak ingin bila terlambat.



Hari belum begitu redup. Matahari pun masih setinggi ayunan langkahku. Senang. Sebuah prestasi membanggakan bila detik ini aku bisa melangkah pulang. Tapi senang ku bercampur terlalu banyak cemas. Aku bergegas. Setiap detail lorong pertokoan itu aku cermati. Tak ada yang luput barang satu centi pun. Tapi rupanya hari ini memang hari besar. Orang sibuk berlalu lalang dengan atribut kemerdekaan. Yang bagiku saat itu hanya antusisame musiman, hanya ikut-ikutan, tapi tak ku pedulikan. Sedikit kesulitan, namun tak berarti. Belum sampai habis keramaian, aku sudah menggengam penahan derita untuk Ibu dirumah. Aku bergegas.



Aku berlari, melewati deretan kendaraan yang seperti tak ada habis-habisnya. Diseberang sana istana dengan segenap bala tentara sedang bersiap-siap mengakhiri tugasnya. Beberapa menit dari sini aku akan tiba di rumah. Dan kuharap semua belum terlambat. Namun itu tidak mengurangi kecemasan ku hingga tiba-tiba seorang lelaki tua memanggilku. Kecemasan ku akan Ibu bertambah parah.



Dari gayanya berpakaian aku tak ragukan bahwa memang kami sama pejuang. Dari dua zaman yang berbeda. Ia mohon pertolongan untuk menyeberang ke istana, ia ingin melihat dari dekat. Tak ada pilihan lain saat itu, tak sampai hati untuk menolak. Dan kami pun menyeberang. Lamban.



Gusar, itu yang berkecamuk di dadaku. Namun lelaki tua itu sepertinya memang hadir untuk itu. Kurasa dan Ia berkata.



“Andai saja, kita terlambat untuk merdeka! Mungkin hari ini saya masih angkat senjata! Tak peduli banyak yang harus saya korbankan, tak peduli lapar, tak peduli mati, asalkan untuk negeri ini. Merah putih akan saya kibarkan. Sayangnya diantara kalian tinggal sedikit yang mengerti, bahwa negeri ini belum benar-benar merdeka, perjuangan belum usai. Kita masih harus menghadapi penjajah dari negeri sendiri. Mereka yang mengotori makna suci dari Bendera kita itu”.



Seketika itu ia memberi penghormatan. Sang Dwiwarna itu terlihat dibalik sekawanan jeruji besi dihadapan kami. Menuruni tiangnya. Menutup sore itu dengan sangat lamban.



Aku mendadak diam, lebih diam dari sebelumnya. Penahan derita itu semakin keras ku genggam, kupindahkan dari kanan ke kiri. Aku pun memberi penghormatan. Gusar ku akan Ibu tiba-tiba sunyi. Memang butuh banyak korban untuk merdeka. Bukan hanya berseteru seperti akal dan hati. Boleh jadi yang ada di hati tak mampu dicerna akal. Pun sebaliknya.



Kami sama-sama pejuang, sudah sepatutnya kami memberi penghormatan atas kemerdekaan. Kami sama-sama berjuang, menghabisi jiwa-jiwa pencuri di negeri ini.

......................





Dan kini matahari pun benar-benar sudah kehilangan tempatnya.



Aku benar-benar dilupakan oleh nasionalisme, oleh patriotisme.



. ......................



Ibu menyambutku dengan hening. Ia nampak sangat kelelahan, tak berdaya, tak membuka mata. Penahan derita itu sepertinya sudah tidak diperlukan lagi. Seprai putih yang tadinya bersih, sudah dilukis dengan dengan merahnya darah. Sepertinya ia tak menyalahkan aku, aku yakin itu. Dari senyumnya yang lepas, seolah mengirim pesan.



“Tak apa bila harus begini. Asalkan kau tetap berjuang, Nak!”