Pagi itu jalanan ku sedikit lembab, berair. Maklum saja musim penghujan tiba lebih cepat dari perkiraan surat kabar ibu kota. Tapi langkah ku tak kurang cepat dari kemarin, satu hari sebelum hari besar ini.
Sekotak besar perlengkapan juang ku sudah bergantung di antara bahu ku. Satu-persatu ku telusuri isinya. Lengkap sudah, tak kurang suatu apa. Aku tak ingin ada yang tertinggal, begitu juga semangat juang itu. Jangan sampai tertinggal di atas usang alas tidur ku. Bagi ku ini adalah perjuangan, bukan sekedar bertahan hidup, tapi mempersiapkan kematian, dimana hidup itu dipertanggungjawabkan. Aku pun berangkat dengan sedikit tergesa-gesa.
Masih kuingat rintihan ibu semalam. Tubercolosa nya semakin akut, sudah berdarah-darah. Aku benci pada kekejaman birokrasi itu, palsu, tapi percuma saja. Marah ku tak kan mengubah tatapan mata para penghisap darah kami, yang tertindas. Semua terkesan pilih-pilih, kesehatan itu bagai perhiasan yang tak mampu kami beli.
Aku hampir tak pejamkan mata semalaman itu. Hampir tidak tak berurai air mata. Menutup sebentar saja pun hanya menghela nafas saja. Lelah, tapi aku tak boleh rasakan itu. Yang kucari hari ini bukan sekedar senyum kebahagiaan, tepuk kebanggaan atau lega hari esok, tapi segalanya. Aku tak ingin segala itu hilang hari ini. Belum. Aku harus kembali sesegera mungkin. Dan memastikan Ibu masih bersama ku, sepahitnya hingga esok pagi. Dan aku tak ingin terlambat.
Sampai. Dari satu sepatu ke sepatu yang lain, dengan pertanyaan yang sama. Beruntung ada beberapa yang bisa ku berikan jasa. Aku tak biarkan waktu itu mendahului. Sang Maha Kaya benar-benar baik hati. Itu lah mengapa, tak bosannya aku meminta-minta. Sepatu-sepatu itu pun seolah mengerti, mereka tak banyak bicara, pasrah saja, mereka tahu aku tak ingin bila terlambat.
Hari belum begitu redup. Matahari pun masih setinggi ayunan langkahku. Senang. Sebuah prestasi membanggakan bila detik ini aku bisa melangkah pulang. Tapi senang ku bercampur terlalu banyak cemas. Aku bergegas. Setiap detail lorong pertokoan itu aku cermati. Tak ada yang luput barang satu centi pun. Tapi rupanya hari ini memang hari besar. Orang sibuk berlalu lalang dengan atribut kemerdekaan. Yang bagiku saat itu hanya antusisame musiman, hanya ikut-ikutan, tapi tak ku pedulikan. Sedikit kesulitan, namun tak berarti. Belum sampai habis keramaian, aku sudah menggengam penahan derita untuk Ibu dirumah. Aku bergegas.
Aku berlari, melewati deretan kendaraan yang seperti tak ada habis-habisnya. Diseberang sana istana dengan segenap bala tentara sedang bersiap-siap mengakhiri tugasnya. Beberapa menit dari sini aku akan tiba di rumah. Dan kuharap semua belum terlambat. Namun itu tidak mengurangi kecemasan ku hingga tiba-tiba seorang lelaki tua memanggilku. Kecemasan ku akan Ibu bertambah parah.
Dari gayanya berpakaian aku tak ragukan bahwa memang kami sama pejuang. Dari dua zaman yang berbeda. Ia mohon pertolongan untuk menyeberang ke istana, ia ingin melihat dari dekat. Tak ada pilihan lain saat itu, tak sampai hati untuk menolak. Dan kami pun menyeberang. Lamban.
Gusar, itu yang berkecamuk di dadaku. Namun lelaki tua itu sepertinya memang hadir untuk itu. Kurasa dan Ia berkata.
“Andai saja, kita terlambat untuk merdeka! Mungkin hari ini saya masih angkat senjata! Tak peduli banyak yang harus saya korbankan, tak peduli lapar, tak peduli mati, asalkan untuk negeri ini. Merah putih akan saya kibarkan. Sayangnya diantara kalian tinggal sedikit yang mengerti, bahwa negeri ini belum benar-benar merdeka, perjuangan belum usai. Kita masih harus menghadapi penjajah dari negeri sendiri. Mereka yang mengotori makna suci dari Bendera kita itu”.
Seketika itu ia memberi penghormatan. Sang Dwiwarna itu terlihat dibalik sekawanan jeruji besi dihadapan kami. Menuruni tiangnya. Menutup sore itu dengan sangat lamban.
Aku mendadak diam, lebih diam dari sebelumnya. Penahan derita itu semakin keras ku genggam, kupindahkan dari kanan ke kiri. Aku pun memberi penghormatan. Gusar ku akan Ibu tiba-tiba sunyi. Memang butuh banyak korban untuk merdeka. Bukan hanya berseteru seperti akal dan hati. Boleh jadi yang ada di hati tak mampu dicerna akal. Pun sebaliknya.
Kami sama-sama pejuang, sudah sepatutnya kami memberi penghormatan atas kemerdekaan. Kami sama-sama berjuang, menghabisi jiwa-jiwa pencuri di negeri ini.
......................
Dan kini matahari pun benar-benar sudah kehilangan tempatnya.
Aku benar-benar dilupakan oleh nasionalisme, oleh patriotisme.
. ......................
Ibu menyambutku dengan hening. Ia nampak sangat kelelahan, tak berdaya, tak membuka mata. Penahan derita itu sepertinya sudah tidak diperlukan lagi. Seprai putih yang tadinya bersih, sudah dilukis dengan dengan merahnya darah. Sepertinya ia tak menyalahkan aku, aku yakin itu. Dari senyumnya yang lepas, seolah mengirim pesan.
“Tak apa bila harus begini. Asalkan kau tetap berjuang, Nak!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar