Jumat, 20 Agustus 2010

Cinta Ini Mendewasakan Kita

..........
Kami sedang berbincang sore itu. Di luar langit terlalu gelap untuk kami beranjak pulang. Lagi pula sebentar lagi malam. Ada baiknya kami menunggu malam benar-benar sampai. Toh, nantinya sama saja, kami tiba di pembaringan malam-malam juga!

Seingatku tidak banyak yang kami perbincangkan. Sedikit basa-basi di awal, lalu dia mulai menghadirkan nama mu di layar perbincangan. Mempertanyakan sikapmu yang semakin hari semakin sulit untuk diterka. Aku tidak punya alasan untuk diam saat itu. Lagi pula tidak ada secangkir kopi untuk mengalihkan pembicaraan ini menjadi sebuah lelucon. Aku yakin kau pun tidak akan suka diperlakukan seperti itu.

Aku mencoba berpikir keras, mencermati setiap detail kata-katamu dalam jangkauan ini. Berusaha menirukan gaya mu, memahami maksud mu......

Apakah diantara kita memang sedang membahana seruan cinta itu. Seolah kita berada dalam ruang resonansi besar, seruan itu menerbangkan kita kemana-mana. Apakah ini memang bagian dari cara alam mendewasakan kita. Sehingga kita harus menyadari bahwa tidak ada satu keindahan pun di bumi ini melainkan atas kehendak-Nya, dapat kita miliki, dapat kita rasakan. Sehingga kita harus belajar untuk saling menghargai, bukan semata-mata dan terus-menerus mencari penghargaan itu. Sehingga pada akhirnya kita semua merasakan bahagia, seperti yang kau bilang pada nya.

Aku bisa memahami, bagaimana perasaan dia saat ini. Kalimat mu itu serasa bagai aspirin di kepala nya. Seandainya dia tidak bertanya padaku, meminta pendapatku. Aku tahu dia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sudah terjadi? Kau bicara lebih dewasa daripada sebelumnya, lebih menyentuh.

Aku justru tidak tahu bagaimana cara nya menempatkan hati ku di antara kalian. Sedapat mungkin aku berhati-hati. Tidak ingin di antara kita ada yang tersakiti. Memang terlanjur untuk menarik hatiku dari pandangan mu. Namun tidak akan ku pentingkan keinginan ku sendiri. Selama ini, bukan aku berusaha untuk menyingkirkan dia dari perhelatan ini. Bahkan sedikit demi sedikit membuang jauh-jauh perannya pun tidak. Aku tahu bagaimana kau di hati nya. Aku pun tidak ingin tergesa-gesa kepadamu.

Dahulu kita seperti di belantara tidak tahu, bimbang kemana-mana. Kita sama-sama berangkat dari kebodohan, mencari ujung kaki-kaki matahari. Disitu terang, disitu menanti perhentian terakhir kita. Tapi kita buta arah, kata hati tak bisa lagi menuntun langkah kita. ...kita hampir putus asa. Kita berharap bisa bertemu sungai, dan terhanyut di hilir sana. Kita berharap bisa bertemu angin, dan terhempas sampai ke pesisir. Sempat terpikir, mungkin memang lebih baik kita mencari perhentian baru. Mungkin sesekali bisa kita hiraukan apa kata hati. Dan kita mencari akal lagi. Namun bukan lantas begitu saja kata-kata hati itu kita biarkan membusuk di bawah dedaunan kering. Kita tak boleh semena-mena begitu....Kini kedewasaan itu datang, perlahan-perlahan menuntun kita ke leluasaan hidup ini.

Kami hampir mengakhiri perbincangan itu, sebelum akhirnya dia meminta sedikit pertimbangan tentang kat-kata mu itu. Aku hening sejenak, seperti mencoba mengkodifikasikan berjuta pendapat dalam tumpukan surat pembaca. Hingga akhirnya ku berikan referensi yang tepat, kurasa.

Sepertinya memang kita tidak bisa menghindari kedewasaan itu datang, air mata dan bahagia sudah membawa kita terlalu jauh untuk menoleh ke belakang... namun percayalah ada saat-saat keremajaan itu kembali untuk sekedar menanyakan kabar.

...................
Entah siapa yang pamit terlebih dahulu. Kami tidak terlalu ingat. Perbincangan itu berakhir begitu saja. Sepanjang malam itu aku terus menerka-nerka, aku yakin Dia sedang menjalankan rencana terbaik-Nya. Dan semoga cinta ini bisa mendewasakan ku, kau dan dia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar