Tadi sore hujan reda sebentar
saya bergegas keluar rumah
hendak berkunjung ke tukang cukur
tidak salah lagi
karena saya harus bercukur
tidak begitu jauh
beberapa menit saja saya sudah sampai
entah memang jarak yang dekat
atau langkah saya yang begitu cepat
tapi rupanya disana
masih harus mengantri
saya pun mengantri
sambil duduk
saya terus menggerutu dalam hati
bukan karena giliran yang belum juga datang
tapi kehendak ini yang setengah hati
rambut saya belum begitu panjang
bahkan belum seperti selebritis korea di tivi tadi
tapi norma kepantasan sebagai pegawai negeri
menuntut saya terlalu tinggi
untuk dianggap rapih
mungkin kalau kondisi kepala ini baik-baik saja
tepatnya terlihat baik-baik saja
saya tidak akan setengah hati
bahkan sedari dulu saya sudah terbiasa digunduli
tapi sekarang kondisinya sudah berbeda
bukan karena saya ingin meniru gaya rambut seperti selebritis korea di tivi tadi
tapi karena bekas luka di kepala ini mendesak saya untuk ditutupi
berkali-kali saya harus mengingatkan si tukang cukur
setiap kali mencukur
agar tidak terlampau asyik mencukur
saya tahu dia kesulitan
dia selalu berhati-hati
saya pun tidak pernah protes
bila hasil nya tidak memuaskan
saya tahu ini tidak mudah
saya sangat menghargai
kali ini
saya tidak minta macam-macam
biar saja si tukang cukur bekerja sesuka hati
walaupun sebenarnya saya setengah hati
tidak peduli bekas luka ini terlihat jelas
saya ikhlas
kebetulan memang suasana hati sedang tidak menentu
ingin rasanya menghukum diri
dan ini salah satu cara
saya lantas berkhayal
kalau saja saya punya alasan yang kuat
sebagai pembenaran diri
bahwa pegawai negeri boleh gondrong
lebih dari sekedar menunjukan bekas luka
untuk memohon pengecualian
tentu saya berani
yang penting saya tidak korupsi
sayangnya saya tak punya alasan lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar