Sudah malam begini,
dasar tidak tahu waktu.
Tapi tak mungkin juga kubiarkan kau terlantar di emperan,
mengebul
ditepuk berdebu,
menggigil
ditusuk-tusuk beku.
Akhirnya ku persilahkan kau masuk,
mempersilahkan kau mengatur dirimu sendiri.
Tapi kau justru keterlaluan,
lancang sekali mengatur-atur kedaulatan hatiku,
malamku.
Aku suguhkan kau jahe wangi
agar terasa hangat-hangat api,
kau malah minta yang haram.
Mabuklah aku
kau sertakan.
Dan saat aku hampir terlelap,
kau perkosa ketangguhanku dengan air mata.
Karena bayangan tentang dirinya
sengaja kau putar berulang-ulang.
Oh malang,
ternyata kau tahu nasibku,
harapanku yang baru saja hilang.
Aku pikir kau hanya kurir kenangan
tidak lebih dari pembawa pesan kerinduan.
Tapi kau ternyata bedebah,
kau buatku jadi lemah.
Aku jadi memaki-maki.
Mengapa kau datang di saat seperti ini,
di saat dia tak mungkin membalas pesanku.
Rindu,
tidakkah kau kasihan padaku.
Ambil saja apa yang kau mau.
Waktuku, mimpiku, cangkir-cangkir kebanggaanku.
Tapi jangan tinggalkan bekas bibirmu di dalam kepalaku,
kau membuatku jadi idiot.
Tak mampu berpikir cerdas.
Air liurmu membuatku harus berwudhu dengan air dan batu dari gunung seribu.
Oh Rindu,
bicarakanlah baik2 dengan Sang Maha.
Jangan sampai aku jadi durhaka
gara-gara kau.
Jangan sampai Ia murka.
Paling tidak jangan kau lebih-lebihkan kecintaan ini.
Perasaan cintaku padanya.
Paling tidak mampirlah disaat jiwaku sedang jaya,
sedang anti putus asa.
Paling tidak sampaikan apa adanya,
agar terlihat hemat saja,
namun luar biasa makna.
Paling tidak sambangi hatinya juga, barang sebentar, setelah kau dari sini.
Aku harap dia mempersilahkan kau masuk juga.
Tapi jangan kau racuni bejana air minumnya, hingga ia tak ingat bicara dengan Sang Maha.
Cukup sampaikan pesan ku padanya.
Itu saja.
dasar tidak tahu waktu.
Tapi tak mungkin juga kubiarkan kau terlantar di emperan,
mengebul
ditepuk berdebu,
menggigil
ditusuk-tusuk beku.
Akhirnya ku persilahkan kau masuk,
mempersilahkan kau mengatur dirimu sendiri.
Tapi kau justru keterlaluan,
lancang sekali mengatur-atur kedaulatan hatiku,
malamku.
Aku suguhkan kau jahe wangi
agar terasa hangat-hangat api,
kau malah minta yang haram.
Mabuklah aku
kau sertakan.
Dan saat aku hampir terlelap,
kau perkosa ketangguhanku dengan air mata.
Karena bayangan tentang dirinya
sengaja kau putar berulang-ulang.
Oh malang,
ternyata kau tahu nasibku,
harapanku yang baru saja hilang.
Aku pikir kau hanya kurir kenangan
tidak lebih dari pembawa pesan kerinduan.
Tapi kau ternyata bedebah,
kau buatku jadi lemah.
Aku jadi memaki-maki.
Mengapa kau datang di saat seperti ini,
di saat dia tak mungkin membalas pesanku.
Rindu,
tidakkah kau kasihan padaku.
Ambil saja apa yang kau mau.
Waktuku, mimpiku, cangkir-cangkir kebanggaanku.
Tapi jangan tinggalkan bekas bibirmu di dalam kepalaku,
kau membuatku jadi idiot.
Tak mampu berpikir cerdas.
Air liurmu membuatku harus berwudhu dengan air dan batu dari gunung seribu.
Oh Rindu,
bicarakanlah baik2 dengan Sang Maha.
Jangan sampai aku jadi durhaka
gara-gara kau.
Jangan sampai Ia murka.
Paling tidak jangan kau lebih-lebihkan kecintaan ini.
Perasaan cintaku padanya.
Paling tidak mampirlah disaat jiwaku sedang jaya,
sedang anti putus asa.
Paling tidak sampaikan apa adanya,
agar terlihat hemat saja,
namun luar biasa makna.
Paling tidak sambangi hatinya juga, barang sebentar, setelah kau dari sini.
Aku harap dia mempersilahkan kau masuk juga.
Tapi jangan kau racuni bejana air minumnya, hingga ia tak ingat bicara dengan Sang Maha.
Cukup sampaikan pesan ku padanya.
Itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar