aku masih
menunggu mu
bicara
padahal malam
hampir usai
tak peduli
padahal tubuh
berkali kali bangkit rubuh
tak mengapa
khawatir
rindu
aku
Minggu, 29 Agustus 2010
begitulah kau
aku sengaja keluar malam ini
sejenak bertemu kawan yang sebatang kara di kota ini
sebagai teman baik tentunya tidak tega melihat dia
yang sedang menderita
walaupun sebenarnya tidak terlalu sangat
tapi paling tidak
mencari pengalihan di tengah kecemasan
yang kau buat
kami bercerita banyak
tentang mu
tentang kebiasaan mu yang mulai terbiasa
ku hadapi
tapi apakah ini tidak terlalu cepat?
sementara siang tadi kita masih biasa-biasa saja
aku sibuk bertanya-tanya
apakah aku sudah terlalu berlebih?
sehingga kau pusing
dan sulit bicara
kau tahu?!
aku baru saja mau bicara
tentang habis bulan nanti
akan ku buktikan kesungguhan ku
aku tak kan segan-segan menemui bapak mu
ibu mu
mempertanyakan kesungguhan mu pada ku
bagaimana kau akan menerima ku?
apa adanya
bila iya
lengkap sudah
aku tak ambil pusing lagi
tapi belum saja aku begitu
kau sudah begini
khawatir ku tiada henti
tekanan darah naik turun
kau membuat ku mati gaya
kawan ku itu hanya tersenyum saja
begitu lah kau
menikmati cara mu adalah pilihan terbaik saat ini
ikuti saja
begitu ujarnya
belum sampai aku benar-benar mengantuk
aku pamit
berdoa dalam hati untuk kesembuhannya
beserta segelas jus jeruk
dan canda tawa
bila sampai esok sore kau tak kunjung bersuara
mudah-mudahan cuaca tak begitu buruk
dan aku tak lupa jalan pulang kerumah mu
kita bertemu disana
dengan izin-Nya
sejenak bertemu kawan yang sebatang kara di kota ini
sebagai teman baik tentunya tidak tega melihat dia
yang sedang menderita
walaupun sebenarnya tidak terlalu sangat
tapi paling tidak
mencari pengalihan di tengah kecemasan
yang kau buat
kami bercerita banyak
tentang mu
tentang kebiasaan mu yang mulai terbiasa
ku hadapi
tapi apakah ini tidak terlalu cepat?
sementara siang tadi kita masih biasa-biasa saja
aku sibuk bertanya-tanya
apakah aku sudah terlalu berlebih?
sehingga kau pusing
dan sulit bicara
kau tahu?!
aku baru saja mau bicara
tentang habis bulan nanti
akan ku buktikan kesungguhan ku
aku tak kan segan-segan menemui bapak mu
ibu mu
mempertanyakan kesungguhan mu pada ku
bagaimana kau akan menerima ku?
apa adanya
bila iya
lengkap sudah
aku tak ambil pusing lagi
tapi belum saja aku begitu
kau sudah begini
khawatir ku tiada henti
tekanan darah naik turun
kau membuat ku mati gaya
kawan ku itu hanya tersenyum saja
begitu lah kau
menikmati cara mu adalah pilihan terbaik saat ini
ikuti saja
begitu ujarnya
belum sampai aku benar-benar mengantuk
aku pamit
berdoa dalam hati untuk kesembuhannya
beserta segelas jus jeruk
dan canda tawa
bila sampai esok sore kau tak kunjung bersuara
mudah-mudahan cuaca tak begitu buruk
dan aku tak lupa jalan pulang kerumah mu
kita bertemu disana
dengan izin-Nya
menggerutu
Kimi ga suki.....
Kalimat itu masih hangat
di telinga ku
belum habis bunga-bunga
ini mekar
di dalam hati
tiba-tiba
sudah layu
seperti datang kemarau
terlalu dini
hawa nya panas
mengeringkan
jiwa yang sempat kau
basahi
aku seperti jejaka
yang tak sudi kehilangan
padahal
ini bukan pertama kali
sudah kesekian
kali
aku cemas
sejadi-jadinya
sedih tak keruan
tapi bukan menangis
menggerutu
sepanjang jalan
sepertinya
Tuhan sedang menggoda
ketangguhan ku
dalam bercinta
Ia menjawab semua
doaku
hahh
aku tak boleh menggerutu
nikmati
sajalah
bersyukur saja karena
Dia telah menganugerahkan aku
hati yang mudah mencintai
telah menghadirkan dia
dalam perjalanan ini
Kimi ga suki
mampir lah sekali-sekali
sekali lagi
agar kita tak lupa
benar
Kalimat itu masih hangat
di telinga ku
belum habis bunga-bunga
ini mekar
di dalam hati
tiba-tiba
sudah layu
seperti datang kemarau
terlalu dini
hawa nya panas
mengeringkan
jiwa yang sempat kau
basahi
aku seperti jejaka
yang tak sudi kehilangan
padahal
ini bukan pertama kali
sudah kesekian
kali
aku cemas
sejadi-jadinya
sedih tak keruan
tapi bukan menangis
menggerutu
sepanjang jalan
sepertinya
Tuhan sedang menggoda
ketangguhan ku
dalam bercinta
Ia menjawab semua
doaku
hahh
aku tak boleh menggerutu
nikmati
sajalah
bersyukur saja karena
Dia telah menganugerahkan aku
hati yang mudah mencintai
telah menghadirkan dia
dalam perjalanan ini
Kimi ga suki
mampir lah sekali-sekali
sekali lagi
agar kita tak lupa
benar
Jumat, 20 Agustus 2010
Cinta Ini Mendewasakan Kita
..........
Kami sedang berbincang sore itu. Di luar langit terlalu gelap untuk kami beranjak pulang. Lagi pula sebentar lagi malam. Ada baiknya kami menunggu malam benar-benar sampai. Toh, nantinya sama saja, kami tiba di pembaringan malam-malam juga!
Seingatku tidak banyak yang kami perbincangkan. Sedikit basa-basi di awal, lalu dia mulai menghadirkan nama mu di layar perbincangan. Mempertanyakan sikapmu yang semakin hari semakin sulit untuk diterka. Aku tidak punya alasan untuk diam saat itu. Lagi pula tidak ada secangkir kopi untuk mengalihkan pembicaraan ini menjadi sebuah lelucon. Aku yakin kau pun tidak akan suka diperlakukan seperti itu.
Aku mencoba berpikir keras, mencermati setiap detail kata-katamu dalam jangkauan ini. Berusaha menirukan gaya mu, memahami maksud mu......
Apakah diantara kita memang sedang membahana seruan cinta itu. Seolah kita berada dalam ruang resonansi besar, seruan itu menerbangkan kita kemana-mana. Apakah ini memang bagian dari cara alam mendewasakan kita. Sehingga kita harus menyadari bahwa tidak ada satu keindahan pun di bumi ini melainkan atas kehendak-Nya, dapat kita miliki, dapat kita rasakan. Sehingga kita harus belajar untuk saling menghargai, bukan semata-mata dan terus-menerus mencari penghargaan itu. Sehingga pada akhirnya kita semua merasakan bahagia, seperti yang kau bilang pada nya.
Aku bisa memahami, bagaimana perasaan dia saat ini. Kalimat mu itu serasa bagai aspirin di kepala nya. Seandainya dia tidak bertanya padaku, meminta pendapatku. Aku tahu dia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sudah terjadi? Kau bicara lebih dewasa daripada sebelumnya, lebih menyentuh.
Aku justru tidak tahu bagaimana cara nya menempatkan hati ku di antara kalian. Sedapat mungkin aku berhati-hati. Tidak ingin di antara kita ada yang tersakiti. Memang terlanjur untuk menarik hatiku dari pandangan mu. Namun tidak akan ku pentingkan keinginan ku sendiri. Selama ini, bukan aku berusaha untuk menyingkirkan dia dari perhelatan ini. Bahkan sedikit demi sedikit membuang jauh-jauh perannya pun tidak. Aku tahu bagaimana kau di hati nya. Aku pun tidak ingin tergesa-gesa kepadamu.
Dahulu kita seperti di belantara tidak tahu, bimbang kemana-mana. Kita sama-sama berangkat dari kebodohan, mencari ujung kaki-kaki matahari. Disitu terang, disitu menanti perhentian terakhir kita. Tapi kita buta arah, kata hati tak bisa lagi menuntun langkah kita. ...kita hampir putus asa. Kita berharap bisa bertemu sungai, dan terhanyut di hilir sana. Kita berharap bisa bertemu angin, dan terhempas sampai ke pesisir. Sempat terpikir, mungkin memang lebih baik kita mencari perhentian baru. Mungkin sesekali bisa kita hiraukan apa kata hati. Dan kita mencari akal lagi. Namun bukan lantas begitu saja kata-kata hati itu kita biarkan membusuk di bawah dedaunan kering. Kita tak boleh semena-mena begitu....Kini kedewasaan itu datang, perlahan-perlahan menuntun kita ke leluasaan hidup ini.
Kami hampir mengakhiri perbincangan itu, sebelum akhirnya dia meminta sedikit pertimbangan tentang kat-kata mu itu. Aku hening sejenak, seperti mencoba mengkodifikasikan berjuta pendapat dalam tumpukan surat pembaca. Hingga akhirnya ku berikan referensi yang tepat, kurasa.
Sepertinya memang kita tidak bisa menghindari kedewasaan itu datang, air mata dan bahagia sudah membawa kita terlalu jauh untuk menoleh ke belakang... namun percayalah ada saat-saat keremajaan itu kembali untuk sekedar menanyakan kabar.
...................
Entah siapa yang pamit terlebih dahulu. Kami tidak terlalu ingat. Perbincangan itu berakhir begitu saja. Sepanjang malam itu aku terus menerka-nerka, aku yakin Dia sedang menjalankan rencana terbaik-Nya. Dan semoga cinta ini bisa mendewasakan ku, kau dan dia
Kami sedang berbincang sore itu. Di luar langit terlalu gelap untuk kami beranjak pulang. Lagi pula sebentar lagi malam. Ada baiknya kami menunggu malam benar-benar sampai. Toh, nantinya sama saja, kami tiba di pembaringan malam-malam juga!
Seingatku tidak banyak yang kami perbincangkan. Sedikit basa-basi di awal, lalu dia mulai menghadirkan nama mu di layar perbincangan. Mempertanyakan sikapmu yang semakin hari semakin sulit untuk diterka. Aku tidak punya alasan untuk diam saat itu. Lagi pula tidak ada secangkir kopi untuk mengalihkan pembicaraan ini menjadi sebuah lelucon. Aku yakin kau pun tidak akan suka diperlakukan seperti itu.
Aku mencoba berpikir keras, mencermati setiap detail kata-katamu dalam jangkauan ini. Berusaha menirukan gaya mu, memahami maksud mu......
Apakah diantara kita memang sedang membahana seruan cinta itu. Seolah kita berada dalam ruang resonansi besar, seruan itu menerbangkan kita kemana-mana. Apakah ini memang bagian dari cara alam mendewasakan kita. Sehingga kita harus menyadari bahwa tidak ada satu keindahan pun di bumi ini melainkan atas kehendak-Nya, dapat kita miliki, dapat kita rasakan. Sehingga kita harus belajar untuk saling menghargai, bukan semata-mata dan terus-menerus mencari penghargaan itu. Sehingga pada akhirnya kita semua merasakan bahagia, seperti yang kau bilang pada nya.
Aku bisa memahami, bagaimana perasaan dia saat ini. Kalimat mu itu serasa bagai aspirin di kepala nya. Seandainya dia tidak bertanya padaku, meminta pendapatku. Aku tahu dia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sudah terjadi? Kau bicara lebih dewasa daripada sebelumnya, lebih menyentuh.
Aku justru tidak tahu bagaimana cara nya menempatkan hati ku di antara kalian. Sedapat mungkin aku berhati-hati. Tidak ingin di antara kita ada yang tersakiti. Memang terlanjur untuk menarik hatiku dari pandangan mu. Namun tidak akan ku pentingkan keinginan ku sendiri. Selama ini, bukan aku berusaha untuk menyingkirkan dia dari perhelatan ini. Bahkan sedikit demi sedikit membuang jauh-jauh perannya pun tidak. Aku tahu bagaimana kau di hati nya. Aku pun tidak ingin tergesa-gesa kepadamu.
Dahulu kita seperti di belantara tidak tahu, bimbang kemana-mana. Kita sama-sama berangkat dari kebodohan, mencari ujung kaki-kaki matahari. Disitu terang, disitu menanti perhentian terakhir kita. Tapi kita buta arah, kata hati tak bisa lagi menuntun langkah kita. ...kita hampir putus asa. Kita berharap bisa bertemu sungai, dan terhanyut di hilir sana. Kita berharap bisa bertemu angin, dan terhempas sampai ke pesisir. Sempat terpikir, mungkin memang lebih baik kita mencari perhentian baru. Mungkin sesekali bisa kita hiraukan apa kata hati. Dan kita mencari akal lagi. Namun bukan lantas begitu saja kata-kata hati itu kita biarkan membusuk di bawah dedaunan kering. Kita tak boleh semena-mena begitu....Kini kedewasaan itu datang, perlahan-perlahan menuntun kita ke leluasaan hidup ini.
Kami hampir mengakhiri perbincangan itu, sebelum akhirnya dia meminta sedikit pertimbangan tentang kat-kata mu itu. Aku hening sejenak, seperti mencoba mengkodifikasikan berjuta pendapat dalam tumpukan surat pembaca. Hingga akhirnya ku berikan referensi yang tepat, kurasa.
Sepertinya memang kita tidak bisa menghindari kedewasaan itu datang, air mata dan bahagia sudah membawa kita terlalu jauh untuk menoleh ke belakang... namun percayalah ada saat-saat keremajaan itu kembali untuk sekedar menanyakan kabar.
...................
Entah siapa yang pamit terlebih dahulu. Kami tidak terlalu ingat. Perbincangan itu berakhir begitu saja. Sepanjang malam itu aku terus menerka-nerka, aku yakin Dia sedang menjalankan rencana terbaik-Nya. Dan semoga cinta ini bisa mendewasakan ku, kau dan dia
Lelaki Pencemburu
Lipatan kerah ini terasa sesak di leher saya
Benar-benar tidak nyaman
Sudah sejak tadi saya coba untuk leluasa, melonggarkan ikatan dasi, tapi tak cukup berarti
Ada yang mengganjal di dalam sini
Dan tidak bisa saya keluarkan
Ungkapan yang seringkali saya dengar, namun sulit saya akui
Terlalu tinggi kah ego ini?
Atau memang kali ini berbeda
Kali ini bukan cemburu....
Atau apa?
Kamu benar-benar sudah menguji kelihaian hati saya dalam bersembunyi
Diam tak buat mu menyerah begitu saja
Justru bingar mu semakin menjadi-jadi
Saya jadi benar-benar tidak mengerti
Apakah ada yang lebih abadi daripada kesetiaan?
Kurasa tidak, dan kamu tahu akan hal itu
Atau kamu memang sudah melarikan diri begitu saja dari perjamuan ini
Rendah sekali....
Seperti tidak punya tata krama
Ahhh...
Tapi sejarah kita dimulai dengan perjuangan yang sakral
Terlalu cepat bila benar kau mengundurkan diri
Lantas apa yang saya rasakan kini
Rindu, namun enggan bicara
Benci, namun tak sudi kehilangan
Mungkin ada yang salah di awal kita menyepakati perjanjian ini
Perlu adendum, atau mungkin amandemen
Agar tidak semena-mena kamu mainkan perasaan ini
Agar kita sama-sama mengerti
Tapi sepertinya memang tidak ada itikad baik dari mu untuk memperbaiki
Atau lagi-lagi kecurigaan saya yang berlebihan?
Karena kamu sedang berusaha menjadikan saya seorang lelaki pencemburu??
Bila iya.....nampaknya kamu sedang menertawakan saya disana
..............
Baiklah kalau begitu
Sudah saya putuskan
Tak peduli kamu sedang mempermainkan saya
Atau memang ada usaha-usaha untuk menghilangkan posisi saya dari dalam hati mu
Saya tidak akan tinggal diam
Lagi
Saya akan buktikan bahwa tidak ada yang setengah-setengah dalam kesaksian ini
Terserah bila nanti kamu menyebut saya lelaki pencemburu
Mungkin memang sebenarnya begitu
Benar-benar tidak nyaman
Sudah sejak tadi saya coba untuk leluasa, melonggarkan ikatan dasi, tapi tak cukup berarti
Ada yang mengganjal di dalam sini
Dan tidak bisa saya keluarkan
Ungkapan yang seringkali saya dengar, namun sulit saya akui
Terlalu tinggi kah ego ini?
Atau memang kali ini berbeda
Kali ini bukan cemburu....
Atau apa?
Kamu benar-benar sudah menguji kelihaian hati saya dalam bersembunyi
Diam tak buat mu menyerah begitu saja
Justru bingar mu semakin menjadi-jadi
Saya jadi benar-benar tidak mengerti
Apakah ada yang lebih abadi daripada kesetiaan?
Kurasa tidak, dan kamu tahu akan hal itu
Atau kamu memang sudah melarikan diri begitu saja dari perjamuan ini
Rendah sekali....
Seperti tidak punya tata krama
Ahhh...
Tapi sejarah kita dimulai dengan perjuangan yang sakral
Terlalu cepat bila benar kau mengundurkan diri
Lantas apa yang saya rasakan kini
Rindu, namun enggan bicara
Benci, namun tak sudi kehilangan
Mungkin ada yang salah di awal kita menyepakati perjanjian ini
Perlu adendum, atau mungkin amandemen
Agar tidak semena-mena kamu mainkan perasaan ini
Agar kita sama-sama mengerti
Tapi sepertinya memang tidak ada itikad baik dari mu untuk memperbaiki
Atau lagi-lagi kecurigaan saya yang berlebihan?
Karena kamu sedang berusaha menjadikan saya seorang lelaki pencemburu??
Bila iya.....nampaknya kamu sedang menertawakan saya disana
..............
Baiklah kalau begitu
Sudah saya putuskan
Tak peduli kamu sedang mempermainkan saya
Atau memang ada usaha-usaha untuk menghilangkan posisi saya dari dalam hati mu
Saya tidak akan tinggal diam
Lagi
Saya akan buktikan bahwa tidak ada yang setengah-setengah dalam kesaksian ini
Terserah bila nanti kamu menyebut saya lelaki pencemburu
Mungkin memang sebenarnya begitu
Rabu, 18 Agustus 2010
Untuk laki-laki terbaik ku
Untuk laki-laki terbaik ku....
Mungkin nanti saat kau baca pesan ku ini, saat itu pasti kau sudah besar. Sudah saatnya untuk kau ketahui, betapa pelik hidup kita ini, dan mengapa aku harus pergi.
Maaf.... bila harus seperti ini. Aku meninggalkanmu saat itu dalam ketidak berdayaan. Saat-saat dimana seharusnya kita menghabiskan waktu bersama. Menyeberangi luasnya samudera, menaklukan puncak-puncak dunia dan menelan berjuta barrel bahagia.
Aku tak ingin melihatmu menangis saat itu, tak sampai hati aku pergi. Tapi aku memang harus pergi, mau tidak mau. Namun lihat kini..... sudah ku duga kau jadi berbeda, kau bukan lagi air mata kesedihan. kau semakin membuat ku bangga.
Bukan berarti dengan begitu, aku tidak tahu apa yang sudah kau perbuat selama aku pergi. Berkali-kali kau jatuh, saat itu juga aku merasakan sakit. Berkali-kali kau mendulang keangkuhan, saat itu juga aku menggeram dalam hati. Berkali-kali kau merasakan cinta, saat itu aku hanya tersenyum saja..... hmmmm
Kurasa tak perlu banyak mengirimi mu pesan. Aku yakin kau seorang otodidak ulung. Bersahabatlah dengan kegagalan, Bersainglah untuk keberhasilan. Semakin sering kau gagal, semakin besar keinginan mu untuk menang. Dimana pun pasti kan kau temui, banyak hal yang bisa kau pelajari. Bahkan diamnya batu pun serasa bagai guru.
Aku harap kesalahan-kesalahan yang pernah kau perbuat, tak terulang lagi nanti. Karena setelah ini aku tak bisa mengawasi mu lagi. Berjanjilah........ Kau akan hidup dengan luhurnya budi pekerti. Berjanjilah padaku dan berdoalah untukku.
Aku kini benar-benar pergi. Dan diantara kita tinggal hanya ikatan tak kasat mata. Dimana Tuhan memelihara kau dan aku. Dia tahu, kau manusia yang tak mudah mati hanya karena semua beban ini. Berbesar hatilah mendapat tugas semulia ini. Ini sebuah kehormatan....
Nak.... Sejak saat kau lahir ke dunia ini, hingga kini, bahagia ku tak pernah terganti.
Tertanda
Ayah
Mungkin nanti saat kau baca pesan ku ini, saat itu pasti kau sudah besar. Sudah saatnya untuk kau ketahui, betapa pelik hidup kita ini, dan mengapa aku harus pergi.
Maaf.... bila harus seperti ini. Aku meninggalkanmu saat itu dalam ketidak berdayaan. Saat-saat dimana seharusnya kita menghabiskan waktu bersama. Menyeberangi luasnya samudera, menaklukan puncak-puncak dunia dan menelan berjuta barrel bahagia.
Aku tak ingin melihatmu menangis saat itu, tak sampai hati aku pergi. Tapi aku memang harus pergi, mau tidak mau. Namun lihat kini..... sudah ku duga kau jadi berbeda, kau bukan lagi air mata kesedihan. kau semakin membuat ku bangga.
Bukan berarti dengan begitu, aku tidak tahu apa yang sudah kau perbuat selama aku pergi. Berkali-kali kau jatuh, saat itu juga aku merasakan sakit. Berkali-kali kau mendulang keangkuhan, saat itu juga aku menggeram dalam hati. Berkali-kali kau merasakan cinta, saat itu aku hanya tersenyum saja..... hmmmm
Kurasa tak perlu banyak mengirimi mu pesan. Aku yakin kau seorang otodidak ulung. Bersahabatlah dengan kegagalan, Bersainglah untuk keberhasilan. Semakin sering kau gagal, semakin besar keinginan mu untuk menang. Dimana pun pasti kan kau temui, banyak hal yang bisa kau pelajari. Bahkan diamnya batu pun serasa bagai guru.
Aku harap kesalahan-kesalahan yang pernah kau perbuat, tak terulang lagi nanti. Karena setelah ini aku tak bisa mengawasi mu lagi. Berjanjilah........ Kau akan hidup dengan luhurnya budi pekerti. Berjanjilah padaku dan berdoalah untukku.
Aku kini benar-benar pergi. Dan diantara kita tinggal hanya ikatan tak kasat mata. Dimana Tuhan memelihara kau dan aku. Dia tahu, kau manusia yang tak mudah mati hanya karena semua beban ini. Berbesar hatilah mendapat tugas semulia ini. Ini sebuah kehormatan....
Nak.... Sejak saat kau lahir ke dunia ini, hingga kini, bahagia ku tak pernah terganti.
Tertanda
Ayah
Asalkan kau tetap berjuang
Pagi itu jalanan ku sedikit lembab, berair. Maklum saja musim penghujan tiba lebih cepat dari perkiraan surat kabar ibu kota. Tapi langkah ku tak kurang cepat dari kemarin, satu hari sebelum hari besar ini.
Sekotak besar perlengkapan juang ku sudah bergantung di antara bahu ku. Satu-persatu ku telusuri isinya. Lengkap sudah, tak kurang suatu apa. Aku tak ingin ada yang tertinggal, begitu juga semangat juang itu. Jangan sampai tertinggal di atas usang alas tidur ku. Bagi ku ini adalah perjuangan, bukan sekedar bertahan hidup, tapi mempersiapkan kematian, dimana hidup itu dipertanggungjawabkan. Aku pun berangkat dengan sedikit tergesa-gesa.
Masih kuingat rintihan ibu semalam. Tubercolosa nya semakin akut, sudah berdarah-darah. Aku benci pada kekejaman birokrasi itu, palsu, tapi percuma saja. Marah ku tak kan mengubah tatapan mata para penghisap darah kami, yang tertindas. Semua terkesan pilih-pilih, kesehatan itu bagai perhiasan yang tak mampu kami beli.
Aku hampir tak pejamkan mata semalaman itu. Hampir tidak tak berurai air mata. Menutup sebentar saja pun hanya menghela nafas saja. Lelah, tapi aku tak boleh rasakan itu. Yang kucari hari ini bukan sekedar senyum kebahagiaan, tepuk kebanggaan atau lega hari esok, tapi segalanya. Aku tak ingin segala itu hilang hari ini. Belum. Aku harus kembali sesegera mungkin. Dan memastikan Ibu masih bersama ku, sepahitnya hingga esok pagi. Dan aku tak ingin terlambat.
Sampai. Dari satu sepatu ke sepatu yang lain, dengan pertanyaan yang sama. Beruntung ada beberapa yang bisa ku berikan jasa. Aku tak biarkan waktu itu mendahului. Sang Maha Kaya benar-benar baik hati. Itu lah mengapa, tak bosannya aku meminta-minta. Sepatu-sepatu itu pun seolah mengerti, mereka tak banyak bicara, pasrah saja, mereka tahu aku tak ingin bila terlambat.
Hari belum begitu redup. Matahari pun masih setinggi ayunan langkahku. Senang. Sebuah prestasi membanggakan bila detik ini aku bisa melangkah pulang. Tapi senang ku bercampur terlalu banyak cemas. Aku bergegas. Setiap detail lorong pertokoan itu aku cermati. Tak ada yang luput barang satu centi pun. Tapi rupanya hari ini memang hari besar. Orang sibuk berlalu lalang dengan atribut kemerdekaan. Yang bagiku saat itu hanya antusisame musiman, hanya ikut-ikutan, tapi tak ku pedulikan. Sedikit kesulitan, namun tak berarti. Belum sampai habis keramaian, aku sudah menggengam penahan derita untuk Ibu dirumah. Aku bergegas.
Aku berlari, melewati deretan kendaraan yang seperti tak ada habis-habisnya. Diseberang sana istana dengan segenap bala tentara sedang bersiap-siap mengakhiri tugasnya. Beberapa menit dari sini aku akan tiba di rumah. Dan kuharap semua belum terlambat. Namun itu tidak mengurangi kecemasan ku hingga tiba-tiba seorang lelaki tua memanggilku. Kecemasan ku akan Ibu bertambah parah.
Dari gayanya berpakaian aku tak ragukan bahwa memang kami sama pejuang. Dari dua zaman yang berbeda. Ia mohon pertolongan untuk menyeberang ke istana, ia ingin melihat dari dekat. Tak ada pilihan lain saat itu, tak sampai hati untuk menolak. Dan kami pun menyeberang. Lamban.
Gusar, itu yang berkecamuk di dadaku. Namun lelaki tua itu sepertinya memang hadir untuk itu. Kurasa dan Ia berkata.
“Andai saja, kita terlambat untuk merdeka! Mungkin hari ini saya masih angkat senjata! Tak peduli banyak yang harus saya korbankan, tak peduli lapar, tak peduli mati, asalkan untuk negeri ini. Merah putih akan saya kibarkan. Sayangnya diantara kalian tinggal sedikit yang mengerti, bahwa negeri ini belum benar-benar merdeka, perjuangan belum usai. Kita masih harus menghadapi penjajah dari negeri sendiri. Mereka yang mengotori makna suci dari Bendera kita itu”.
Seketika itu ia memberi penghormatan. Sang Dwiwarna itu terlihat dibalik sekawanan jeruji besi dihadapan kami. Menuruni tiangnya. Menutup sore itu dengan sangat lamban.
Aku mendadak diam, lebih diam dari sebelumnya. Penahan derita itu semakin keras ku genggam, kupindahkan dari kanan ke kiri. Aku pun memberi penghormatan. Gusar ku akan Ibu tiba-tiba sunyi. Memang butuh banyak korban untuk merdeka. Bukan hanya berseteru seperti akal dan hati. Boleh jadi yang ada di hati tak mampu dicerna akal. Pun sebaliknya.
Kami sama-sama pejuang, sudah sepatutnya kami memberi penghormatan atas kemerdekaan. Kami sama-sama berjuang, menghabisi jiwa-jiwa pencuri di negeri ini.
......................
Dan kini matahari pun benar-benar sudah kehilangan tempatnya.
Aku benar-benar dilupakan oleh nasionalisme, oleh patriotisme.
. ......................
Ibu menyambutku dengan hening. Ia nampak sangat kelelahan, tak berdaya, tak membuka mata. Penahan derita itu sepertinya sudah tidak diperlukan lagi. Seprai putih yang tadinya bersih, sudah dilukis dengan dengan merahnya darah. Sepertinya ia tak menyalahkan aku, aku yakin itu. Dari senyumnya yang lepas, seolah mengirim pesan.
“Tak apa bila harus begini. Asalkan kau tetap berjuang, Nak!”
Sekotak besar perlengkapan juang ku sudah bergantung di antara bahu ku. Satu-persatu ku telusuri isinya. Lengkap sudah, tak kurang suatu apa. Aku tak ingin ada yang tertinggal, begitu juga semangat juang itu. Jangan sampai tertinggal di atas usang alas tidur ku. Bagi ku ini adalah perjuangan, bukan sekedar bertahan hidup, tapi mempersiapkan kematian, dimana hidup itu dipertanggungjawabkan. Aku pun berangkat dengan sedikit tergesa-gesa.
Masih kuingat rintihan ibu semalam. Tubercolosa nya semakin akut, sudah berdarah-darah. Aku benci pada kekejaman birokrasi itu, palsu, tapi percuma saja. Marah ku tak kan mengubah tatapan mata para penghisap darah kami, yang tertindas. Semua terkesan pilih-pilih, kesehatan itu bagai perhiasan yang tak mampu kami beli.
Aku hampir tak pejamkan mata semalaman itu. Hampir tidak tak berurai air mata. Menutup sebentar saja pun hanya menghela nafas saja. Lelah, tapi aku tak boleh rasakan itu. Yang kucari hari ini bukan sekedar senyum kebahagiaan, tepuk kebanggaan atau lega hari esok, tapi segalanya. Aku tak ingin segala itu hilang hari ini. Belum. Aku harus kembali sesegera mungkin. Dan memastikan Ibu masih bersama ku, sepahitnya hingga esok pagi. Dan aku tak ingin terlambat.
Sampai. Dari satu sepatu ke sepatu yang lain, dengan pertanyaan yang sama. Beruntung ada beberapa yang bisa ku berikan jasa. Aku tak biarkan waktu itu mendahului. Sang Maha Kaya benar-benar baik hati. Itu lah mengapa, tak bosannya aku meminta-minta. Sepatu-sepatu itu pun seolah mengerti, mereka tak banyak bicara, pasrah saja, mereka tahu aku tak ingin bila terlambat.
Hari belum begitu redup. Matahari pun masih setinggi ayunan langkahku. Senang. Sebuah prestasi membanggakan bila detik ini aku bisa melangkah pulang. Tapi senang ku bercampur terlalu banyak cemas. Aku bergegas. Setiap detail lorong pertokoan itu aku cermati. Tak ada yang luput barang satu centi pun. Tapi rupanya hari ini memang hari besar. Orang sibuk berlalu lalang dengan atribut kemerdekaan. Yang bagiku saat itu hanya antusisame musiman, hanya ikut-ikutan, tapi tak ku pedulikan. Sedikit kesulitan, namun tak berarti. Belum sampai habis keramaian, aku sudah menggengam penahan derita untuk Ibu dirumah. Aku bergegas.
Aku berlari, melewati deretan kendaraan yang seperti tak ada habis-habisnya. Diseberang sana istana dengan segenap bala tentara sedang bersiap-siap mengakhiri tugasnya. Beberapa menit dari sini aku akan tiba di rumah. Dan kuharap semua belum terlambat. Namun itu tidak mengurangi kecemasan ku hingga tiba-tiba seorang lelaki tua memanggilku. Kecemasan ku akan Ibu bertambah parah.
Dari gayanya berpakaian aku tak ragukan bahwa memang kami sama pejuang. Dari dua zaman yang berbeda. Ia mohon pertolongan untuk menyeberang ke istana, ia ingin melihat dari dekat. Tak ada pilihan lain saat itu, tak sampai hati untuk menolak. Dan kami pun menyeberang. Lamban.
Gusar, itu yang berkecamuk di dadaku. Namun lelaki tua itu sepertinya memang hadir untuk itu. Kurasa dan Ia berkata.
“Andai saja, kita terlambat untuk merdeka! Mungkin hari ini saya masih angkat senjata! Tak peduli banyak yang harus saya korbankan, tak peduli lapar, tak peduli mati, asalkan untuk negeri ini. Merah putih akan saya kibarkan. Sayangnya diantara kalian tinggal sedikit yang mengerti, bahwa negeri ini belum benar-benar merdeka, perjuangan belum usai. Kita masih harus menghadapi penjajah dari negeri sendiri. Mereka yang mengotori makna suci dari Bendera kita itu”.
Seketika itu ia memberi penghormatan. Sang Dwiwarna itu terlihat dibalik sekawanan jeruji besi dihadapan kami. Menuruni tiangnya. Menutup sore itu dengan sangat lamban.
Aku mendadak diam, lebih diam dari sebelumnya. Penahan derita itu semakin keras ku genggam, kupindahkan dari kanan ke kiri. Aku pun memberi penghormatan. Gusar ku akan Ibu tiba-tiba sunyi. Memang butuh banyak korban untuk merdeka. Bukan hanya berseteru seperti akal dan hati. Boleh jadi yang ada di hati tak mampu dicerna akal. Pun sebaliknya.
Kami sama-sama pejuang, sudah sepatutnya kami memberi penghormatan atas kemerdekaan. Kami sama-sama berjuang, menghabisi jiwa-jiwa pencuri di negeri ini.
......................
Dan kini matahari pun benar-benar sudah kehilangan tempatnya.
Aku benar-benar dilupakan oleh nasionalisme, oleh patriotisme.
. ......................
Ibu menyambutku dengan hening. Ia nampak sangat kelelahan, tak berdaya, tak membuka mata. Penahan derita itu sepertinya sudah tidak diperlukan lagi. Seprai putih yang tadinya bersih, sudah dilukis dengan dengan merahnya darah. Sepertinya ia tak menyalahkan aku, aku yakin itu. Dari senyumnya yang lepas, seolah mengirim pesan.
“Tak apa bila harus begini. Asalkan kau tetap berjuang, Nak!”
Langganan:
Komentar (Atom)