Selasa, 22 Maret 2011

Pagi hari di terusan Denpasar

Jendela kacamu menyejukkan peradaban
Membiarkan angin pagi saling bertabrakan
Dengan pintu-pintu udara
Memberikan aku pemandangan iri dari bawah sini

Perlahan dan memang lamban
Jalanan ini akan ramai dilalui
Para pemburu nafkah Tuhan
Lapak-lapak yang dulu roboh
Dihantam tangan-tangan besi
kaki tangan gubernur
Nanti berdiri lagi
Roboh lagi
Dan berdiri lagi
Begitu seterusnya
Sampai negeri ini benar-benar penuh dengan mimpi-mimpi kaki lima

Aku bergegas menghabiskan sarapan pagiku
Gumpalan sagu yang tak habis ku lumat
Kubiarkan mengeras di atas kuahnya
Sudah dua hari ini aku mendapat hidangan basi
Mungkin Paduka sedang menegurku
Aku tak lekas khawatir
maklum saja
Sudah terlalu banyak kemunafikan
Menghidupi keluargaku
Memperpanjang usia dompetku
Menambah deretan mimpi-mimpi ketinggian
Termasuk memiliki satu ruang di atas sana
Tempat ku menyimpan semua kelelahan
Kekenyangan
Dan birahi dunia

Aku beranjak dari hajatku
menenggak segelas air dan lalu pergi
Meneruskan tugasku
Mencari perhatian Yang Maha Kuasa
Dan berharap Ia
Tak lekas-lekas menyingkirkanku dari hidup ini
Masih banyak yang harus kucuri
Masih banyak yang harus ku beli
Harga diri yang pernah ku jual
Termasuk mimpi untuk memilikimu
Karena
Aku masih terus berharap
Bisa mengagumi mu
Dari balik pinggangmu
Sintal arsitekturmu
Bukan hanya dari kejauhan

Ada kamu di kamar kos ku

Aku biarkan tumpukan baju yang serabutan menertawakanku
Bagaimana bisa aku jadi lebih kacau dari kamar ku ini
Telak sudah aku dicemooh oleh bungkus-bungkus kopi
Dan cangkir-cangkir tak tercuci
Puas benar mereka tergelak
Sudah ribuan kali aku menggeliat kesana kemari
Mencari pinggiran kasur dimana tidak ada garis wajah munamun sepertinya usahaku sia-sia
Kau tak pernah benar-benar jera untuk memabukan aku

mau ku apakan bayang mu kini?

aku tidak sempat
menanggalkan mu
melucuti semua perasaan
yang tertinggal begitu saja
kau pun tak berusaha
mengingatkan ku untuk itu
mungkin memang kau sengaja
atau kau sedang bermain-main
dengan puas
saking lelahnya
kau terbawa dalam muatan ku
ikut kemana-mana
aku mau pergi
lelap bersama-sama
aku bermimpi
ahh...
aku jadi salah tingkah
mau ku apakan bayang mu kini?

Menghabiskan sisa-sisa mimpi

Sudah
Kuduga
Tidak ada kata
Terlambat Untuk bahagia
Apa yang pernah
Kau khawatirkan
Dulu
Tak pernah benar-benar
Menyentuh
Ujung-ujung
Jari mu
Sementara apa yang pernah
Kita perbincangkan
Dulu
Benar-benar melingkari
Jari manis mu
Kini
Aku pun hanya bisa
Mengagumi
Kedahsyatan Tuhan dalam
Menyiasati hati
Kita tak pernah benar-benar
Mengetahui
Dengan siapa kita menghabiskan
Sisa-sisa mimpi
Dalam cangkir
Kenangan ini