Jendela kacamu menyejukkan peradaban
Membiarkan angin pagi saling bertabrakan
Dengan pintu-pintu udara
Memberikan aku pemandangan iri dari bawah sini
Perlahan dan memang lamban
Jalanan ini akan ramai dilalui
Para pemburu nafkah Tuhan
Lapak-lapak yang dulu roboh
Dihantam tangan-tangan besi
kaki tangan gubernur
Nanti berdiri lagi
Roboh lagi
Dan berdiri lagi
Begitu seterusnya
Sampai negeri ini benar-benar penuh dengan mimpi-mimpi kaki lima
Aku bergegas menghabiskan sarapan pagiku
Gumpalan sagu yang tak habis ku lumat
Kubiarkan mengeras di atas kuahnya
Sudah dua hari ini aku mendapat hidangan basi
Mungkin Paduka sedang menegurku
Aku tak lekas khawatir
maklum saja
Sudah terlalu banyak kemunafikan
Menghidupi keluargaku
Memperpanjang usia dompetku
Menambah deretan mimpi-mimpi ketinggian
Termasuk memiliki satu ruang di atas sana
Tempat ku menyimpan semua kelelahan
Kekenyangan
Dan birahi dunia
Aku beranjak dari hajatku
menenggak segelas air dan lalu pergi
Meneruskan tugasku
Mencari perhatian Yang Maha Kuasa
Dan berharap Ia
Tak lekas-lekas menyingkirkanku dari hidup ini
Masih banyak yang harus kucuri
Masih banyak yang harus ku beli
Harga diri yang pernah ku jual
Termasuk mimpi untuk memilikimu
Karena
Aku masih terus berharap
Bisa mengagumi mu
Dari balik pinggangmu
Sintal arsitekturmu
Bukan hanya dari kejauhan